Kamis, 04 Maret 2010

Broken Home



Istilah broken home, hal yang sering kita temui pada lingkungan keluarga, tetangga, saudara atau teman kita, seperti situasi keluarga yang berantakan karena orangtua tidak peduli sama keluarga, keadaan yang bikin kita nggak betah di rumah, dan kondisi yang tidak harmonis bisa disebut broken home.
Sebagian orang mengatakan, broken home akan berakhir pada perpisahan atau perceraian suami-istri yang dilandaskan pada keputusan terbaik. Mungkin iya untuk mereka, tapi apa itu juga yang terbaik untuk kita sebagai anak????
Kita sebagai anak yang biasa dijadiin korban pasti bingung harus gimana. Bisa kita jadi murung, sedih, dan malu. Kita juga jadi hilang pegangan dari orangtua yang seharusnya membimbing kita. Nggak ada satu orang pun yang menginginkan keadaan keluarga kayak gini. Kita harus bangun dari "mimpi buruk" itu….
1. Nggak boleh nyerah sama keadaan. Coba ngomong sama orangtua buat membicarakan masalah yang ada sampai nemuin kunci buat nyelesein.
2. Kalau nggak berhasil nyatuin, ya kita tetep harus selalu mikir positif sama apa yang terjadi. Kita harus coba menerima dan tegar. Jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita menuju kehancuran atau malah menyiksa diri sendiri.
3. Cobain deh hal-hal baru yang menantang, kayak hiking, rafting, atau olahraga alam. Yang bisa bikin kita lebih segar dan ngelupain hal-hal buruk.
4. Kita nggak sendirian lho! Lo bisa cari tempat buat cerita-cerita.Tapi, yang pasti cuma orang-orang tertentu yang bisa dipercaya aja lho. Jangan sembarang orang!
5. Bangun dari mimpi masa lalu. Kita harus belajar sadar bahwa di balik keputusan bokap-nyokap yang nyakitin kita, larut dalam keadaan nggak bikin kita sehat atau dapetin kebahagiaan yang kita inginkan. Buktiin kalau kita bisa. Buktiin kalau kita tetap sama kayak anak lain. Buktiin kalau kita bisa ngasih yang lebih baik daripada yang lain. Tetap berusaha dan semangat ! Itu kuncinya.
6. "Take a new position at our home". Mungkin setelah nggak ada lagi papa-mama di rumah, kita bisa ngambil posisi mereka di rumah. Kita belajar untuk lebih dewasa dan kita bisa belajar bertanggung jawab lebih besar dibandingkan anak-anak lain.
7. "Let the history be the history and do something for the future". Masa lalu biarin aja jadi masa lalu, jangan terus-terusan nyalahin apa yang udah terjadi. Inget, kita nggak hidup untuk masa lalu, tapi buat masa depan. Jangan jadi minder sama keadaan kita yang bukan dari "happy family". Justru jadiin itu motivasi buat masa depan yang lebih baik.
8. "Don’t waste your time just for something useless". Jangan pernah tertarik sama narkoba atau hal-hal negatif semacamnya. Pelarian kayak gitu sama sekali nggak menyelesaikan masalah. Malah bakal menambah masalah.
9. "Keep praying". Tuhan pasti selalu ngasih jalan yang terbaik buat kita. Walaupun kadang-kadang kita merasa nggak dikasih keadilan, suatu saat lo pasti tahu. Kita bener-bener udah dikasih apa yang terbaik dan yang paling baik di antara semuanya.

Minggu, 28 Februari 2010

Bumi Perlu Penghijauan

Saat ini Keefesiensian dan ketebalan lapisan ozon yg melindungi bumi kta tengah terancam, dikarenakan dengan adanya efek rumah kaca dan sebab-sebab yang lainnya.... Dan kita sebagai umat manusia wajib untuk melindungi dan menjaga serta melestarikan bumi kita ini... Salah satu cara untuk menghambat proses terjadinya efek rumah kaca adalah dengan penghijauan mulai dari negara kta sendiri Dilanjutkan dengan perluasan penghijauan di negara-negara lain.... Karena selain Proses penghijauan yang simple, juga tidak terlalu memakan biaya yg cukup besar dan usaha yg cukup keras... Untuk itulah penghijauan secara global adalah salah satu cara terbaik untuk menghambat proses penipisan lapisan ozon....
Dalam menata dan menjaga kelestarian lingkungan, dapat dilakukan dengan pola pendidikan melalui berbagai penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Membangun kesadaran masyarakat yang mempunyai wawasan lingkungan yang luas merupakan " tiang pondasi " dalam menjaga kondisi lingkungan benar-benar jauh dari berbagai sumber pengrusakan dan pencemaran lingkungan. Karena pada dasarnya masalah kerusakan lingkungan disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendirri.
Masalah lingkungan seperti banjir, tanah longsor dan kelangkaan air bersih yang sering terjadi memang merupakan permasalahan global. Meskipun sering dilanda bnjir pada musim penghujan Indonesia dalam waktu tertentu juga mengalami kelangkaan air bersih. Hail ini merupakan bukti nyata akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam berwawasan lingkungan. Penghijauan lingkungan di wilayah Indonesia haruslah kembali dilakukan. Pada pundak manusia terpikul sebuah amanah dan tanggung jawab melestarikan bumi. Dengan adanya penerapan penghijauan diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif dalam menata dan memelihara kelestrian lingkungan hidup. Pembangunan Indonesia yang berwawasan lingkungan merupakan dasar dalam menciptakan suasana keindahan dan kenyamanan lingkungan terutama dalam meningkatkan derajat dan kesehatan masyarakat yang optimal.

Kamis, 18 Februari 2010

Kebudayaan Asli Daerah


Tari Pendet

Tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.
Tari yang tercipta awal tahun 70-an oleh seniman I Nyoman Kaler ini, menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam Marcapada. Tarian ini merupakan sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti tarian-tarian pertunjukan yang memerlukan pelatihan intensif, tarian ini diajarkan sekadar mengikuti gerakan. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para perempuan yang lebih senior.
Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura. Biasanya penari menghadap ke arah suci (pelinggih) mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya. Selain tari Pendet, di Bali ada beberapa jenis tari-tarian yang dibawakan para gadis atau perempuan dewasa untuk kelengkapan pelaksanaan kegiatan ritual atau upacara keagamaan.
Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi ‘ucapan selamat datang‘™. Taburan bunga disebarkan di hadapan para tamu sebagai ungkapan selamat datang. Meski demikian, tarian ini tetap mengandung muatan-muatan sakral dan religius.
Sebagaimana Pendet, tarian ini sifatnya feminin, karena menuntut gerakan-gerakan yang lemah gemulai seperti tarian Sanghyang Dedari, tari Rejang, Sutri dan tari Gabor. Tarian-tarian Bali yang dipentaskan untuk keperluan upacara keagamaan disebut tarian wali, sedang pementasan di luar pura disebut Balih-balihan.

Sabtu, 13 Februari 2010

Milik Indonesia

Zaman modern seperti ini rasa nasionalisme bagi anak-anak muda bangsa sangatlah menurun, karena banyak faktor-faktor lain dari bangasa luar serta faktor dari bangsa sendiri. Maka dari itu perlu ditanamkan kembali rasa nasinalisme dengan mengajarkan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan secara formal dan informal. Terutama dengan memperkenalkan apa arti indonesiaitu sendiri, mengetahui isi kekayaan alam, kebudayaan, dan sejarah-sejarah penting yang ada dan terjadi di Negara Indonesia.
Indonesia merupakan negara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[4] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam.
Indonesia negara yang mempunyai isi kekayaan alam yang melimpah serta kehidupan-kehidupan yang beraneka ragam yang terdiri dari bebagai suku yang bebeda. Indonesia juga meupakan salah satu dari tujuh negara mega biodivertas yang dikenal sebagai pusat konsentrasi keaneka ragaman hayati Indonesia sebanyak ± 6.000 spesies flora dan fauna yang dimanfaatkan sehari-hari untuk pangan, obat-obatan, kosmetik, pewarna, dan lain-lain; keaneka ragaman ekosistem alam sebanyak ± 47 tipe; sedangkan keanekaragaman ginetik sampai saat ini belum banyak diketahui, walaupun telah digunakan untuk pemuliaan berbagai kepentingan budidaya tumbuhan dan satwanya.
Bila kita lihat dari segi peraiarn Indonesia dijadikan jalur litas perdagangan internasional, dari segi daratan Indonesia memiliki pertambangan besar seperti emas, batubara, minyak dan gas. Sudah terbukti bahwa sejak dahulu sampai sekarang banyak bangsa lain yang datang keindonesia untuk mencari mengambil ataupun meniru dari hasil kekayaan alam ataupun kebudayaan yang menjadi keabsahan milik setiap daerah kepulauan Indonesia, katakanlah seperti kebudayaan membatik dari jawa tengah dan tarian pendet dari bali yang waktu itu sempat terjadi peng-klaiman dari Negara seberang, padahal kita sudah tahu bahwa kebudayaan tersebut sudah ada sejak dahulu menjadi tradisi yang sah dan ciri khas daerah yang telah diakui milik bangsa Indonesia .
Sudah sepantasnya kita sebagai bangsa indonesi Indonesia bangga atas apa yang telah diberikan, apa yang dihasilkan, dan apa yang dapat kita manfaatkan terhadap isi yang tersimpan dan terkandung dalam Indonesia, semuanya digunakan untuk kesejahteraan kemakmuran bagi masyarakat Indonesia.

Minggu, 17 Januari 2010

“Menghargai Perbedaan”

Suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil waktu dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.

Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, “Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?” Sang nelayan menjawab, “ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba.” “Nelayan bodoh!” kata mahaguru tersebut. “Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.”

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. “Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.” Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.

Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, “apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?” “Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya.” Jawab sang nelayan. “Apakah bapak bisa berenang?” Tanya sang nelayan.

Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, “Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki.” Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.

Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat “tahu apa kamu” atau “si anu tidak tahu apa-apa” mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.

Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang ‘luar’ yang hanya tahu ‘kulitnya’ saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.

Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.

Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.

Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain.
Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain. Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.

Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru?
Bila ya, seberapa sering?

"Harapan"

Seorang teman bertanya,,
“kenapa jam di rumah mu tidak ada yang tepat waktu”?
Kalau diperhatikan memang demikian, Jam di ruang tamu ku lebih 30 menit, di ruang TV juga demikian sedangkan di ruang kamar tamu dan kamarku sendiri berbeda sekitar 1 jam. Walau demikian aku hafal dengan perbedaan waktu tersebut. Lalu seperti pertanyaan dari teman ku…”untuk apa itu dilakukan”??

Hmmm rasanya enak saja kalau tiba-tiba terbangun jam menunjukan pukul 05:30 pagi, dan aku tahu bahwa itu masih jam 04:30 pagi.. artinya masih ada waktu kurang lebih 1/2 jam untuk tidur kembali sebelum kemudian bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Atau ketika terburu-buru hendak pergi atau melakukan sesuatu begitu melihat jam di ruang keluarga masih menyisakan waktu 1/2 jam untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan memastikan semuanya sudah siap.

Entahlah.. bagiku mempunyai kelebihan waktu 1/2 jam sampai 1 jam menjadi suatu sumber harapan dimana saya masih berharap untuk tidur kembali atau bisa datang ke kantor ku tepat waktu walau jam di pergelangan tangan ku menunjukan hal yang sebaliknya.

Harapan…mungkin inilah yang membuat saya senang memajukan jam di rumah dan juga dipergelangan tangan ku untuk tidak tepat waktu :)
Seperti harapan yang dimiliki Ben teman ku yang dengan mata berbinar-binar menyerahkan proposal project kepadaku walau berulang kali kukatakan bahwa aku hanya bersifat membantu mendaftakrkan saja tanpa bisa membantunya untuk lolos tender kali ini. Atau seperti Tika yang terlihat cerah dengan senyum manisnya ketika tahu bahwa menurut dokter kandunganya dia dan suaminya tidak mempunyai masalah dalam hal reproduksi maka besar kemungkinan untuk mempunyai anak..ini hanya tinggal masalah waktu.. begitu katanya..

Harapan seringkali membangun mimpi seseorang, dengan harapan seseorang bisa melihat dunia dengan segala keindahannya..mensyukuri keberadaan dirinya dan merasa mampu untuk tetap bertahan.

Seorang penyair menyatakan bahwa harapan itu seperti sayap burung yang mampu membawa terbang dirinya ke alam bebas untuk bisa merasakan hidup yang sejatinya. Berbeda dengan orang-orang yang tidak mempunyai harapan, mereka akan berputus asa. Melihat dunia dari kegelapan, merasakan bahwa keberadaanya tak ada gunanya lagi sehingga banyak juga orang yang berputus asa akhirnya menyakiti diri mereka sendiri bahkan ada yang bisa untuk mengakhiri keberadaan dirinya sendiri.

Jangan heran kalau berkunjung ke rumah Pakde ku yang tinggal di kawasan Bandung timur, di rumahnya ada 3 tangga kayu yang tergeletak di dalam garasi mobilnya. Padahal dengan kondisi rumah hanya satu lantai tanpaada pohon besar, boleh di pertanyakan kegunaan tangga tsb.

Itupun yang kutanyakan pada Beliau, mengapa Pakde harus memiliki tangga kayu bahwa sampai 3 buah banyaknya.Pakde ku mengatakan bahwa kadang kala beliau melihat penjual tangga yang berkeliling komplek, mereka memikul tangga2 tersebut di pundaknya bahkan sampai 5 buah banyaknya. Bagaimana perasaan tukang tangga yang dengan susah payah memikul tangga tersebut berjalan berkilo-kilo dan berharap bahwa tangga2 akan terjual dan ternyata tidak satupun tangga yang terjual..

Beliau mengatakan bahwa tidak semata-mata dia membeli tangga untuk mendapatkan tangganya tapi lebih kepada memberikan harapan dan berbagi rezeki dengan si tukang tangga.Mungkin harga tangga dan keuntungan bagi tukang tangga tidaklah seberapa tapi harapan yang muncul dalam dirinyalah yang bisa membuat tukang tangga bertahan memikul dengan susah payah tangga2 yang berat di pundaknya dan menjajakan tangga tersebut dengan berjalan kaki berkilo-kilo.

Harapan seringkali membuat kita kuat dan mampun bertahan, tanpa harapan mungkin saja kita tidak akan dapat bertahan walau hanya sesaat.
Lalu harapan apa yang kau pegang hari ini??? ;)